Manusia diberikan oleh Allah kelebihan dibandingkan makhluk-makhluk lainnya, yaitu yang berupa akal pikiran. Akal adalah alat yang dapat digunakan oleh manusia untuk mempelajari dan memahami ayat-ayat Allah, baik itu yang terbentang di alam raya ini, maupun yang termaktub dalam kitabNya (dalam konteks ini adalah al Quran dan Hadits). Menurut Ahmad Wahib, ada perbedaan mendasar jika akal digunakan sebagai "alat" untuk memahami agama, dan jika akal dijadikan sebagai "sumber" agama. Jika akal dijadikan sebagai alat, maka yang nanti muncul adalah macammacam Islam. Maksudnya, akan muncul berbagai golongan yang memahami Islam menurut versinya masing-masing. Sebaliknya jika akal dijadikan sebagai sumberagama, agama, maka semua hal yang tidak bertentangan dengan akal akan dianggap sebagai Islam.
Akal merupakan karunia yang harus digunakan untuk berpikir tentang segala hal, termasuk tentang Tuhan. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan "adanya". Yang menolak untuk berpikir bebas berarti telah menghina rasionalitas eksistensi Tuhan. Orang yang berpikir bebas walau salah tetap lebih baik daripada mereka yang tidak pernah berpikir. Orang yang tidak pernah mau berpikir bebas malahan akan ditimpa ketakutan dan keraguan akan kepura-puraannya yang tidak terlihat. Dengan bebas, manusia tahu tentang dirinya dan kemanusiaannya. Dia gelisah untuk memikirkan macam-macam hal terutama yang dasar dan sematamata berpijak pada obyektivitas akal. Yah.. walaupun pada kenyataannya tidak ada yang benar-benar disebut "bebas". Ibaratnya, kita ada di sebuah ruangan. Kita bebas mau melakukan apa saja selama masih berada di dalam ruangan tersebut. Kebebasan kita dibatasi oleh ruangan yang kita diami. Tapi perlu diingat, seringkali persfektif kita sendirilah yang membuat ruangan tersebut terasa sempit. Padahal bisa saja kita membuka pintu yang ada di sudut ruangan dan melihat sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ternyata ruangan yang selama ini kita diami hanyalah bagian kecil dari ruangan dan dunia yang sebenarnya jauh lebih luas. Karena itu, berilah otak kebebasan dalam keterbatasannya, yang hanya ia sendiri tahu. Otak tidak akan melampaui batas kekuatannya, jadi tidak perlu dipersoalkan.
Dalam kaitannya dengan masalah agama... Ketika kita mencoba memahami ayat-ayat al Quran, maka kembalikanlah pada konstelasi di zaman Nabi. "Ultimate values" (nilai-nilai pokok) ajaran Islam sudah semestinya memerlukan penterjemahan-penterjemahan dengan kondisi sekarang. Menurutku, tidak ada jaminan bahwa "semua" yang disampaikan oleh para ustadz dll adalah kebenaran yang dimaksud oleh Allah. al Quran adalah bahasa Allah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sepenuhnya dapat memahami kehendak Allah. Untuk itu muncullah yang namanya ilmu tafsir yang berusaha mengungkap makna dan kehendak Tuhan yang tertuang dalam al Quran. Tapi, tetap saja itu adalah penafsiran manusia. Apa yang disampaikan oleh para ustadz dll boleh dibilang hanyalah penafsiran mereka terhadap ayat-ayat Tuhan. Dan belum tentu itu memang yang dimaksudkan oleh Tuhan sendiri.
Ada yang membuat perumpamaan bahwa al Quran itu ibarat berlian. Semua orang dapat melihat kemilau cahaya yang berbeda, dari sisi yang berbeda. Setiap orang dapat memiliki penafsiran yang berbeda terhadap satu ayat yang sama. Aku bisa saja memiliki penafsiran yang berbeda dengan kebanyakan ulama. Yang penting adalah keyakinan dalam akal sehat bahwa Islam yang kupahami adalah Islam menurut Allah. Aku tidak peduli apakah itu perkataan ulama besar atau siapapun, selama aku tidak setuju, maka aku tidak akan menggunakan pendapatnya. Menurutku, selama orang itu memiliki obyektivitas dan akal yang sehat, hati yang bersih serta iman yang kuat, maka dia berhak untuk berkata bahwa Islam menurutnya adalah benar. Tentu saja harus dibarengi dengan sikap terbuka tehadap adanya kemungkinan penafsiran yang berbeda. Ketika ada penafsiran yang lebih baik dan mendekati kebenaran, kita harus berani mengakui hal tersebut.Aku mempercayai al Quran dengan sepenuh hatiku. Aku tidak pernah berkata bahwa al Quran itu salah. Penafsiran kitalah yang mungkin salah. Aku tidak pernah berkata bahwa isi al Quran harus disesuaikan dengan perubahan zaman. Tetapi, penafsiran kitalah yang harus disesuaikan. Bukankah al Quran adalah kitab suci yang berlaku untuk segala zaman!?? Memang, di dalam al Quran ada ayat-ayat yang sifatnya "muhkamat", terang dan jelas artinya. Tetapi, banyak juga ayat-ayat
yang bersifat "mutasyabihat", kurang terang dan kurang jelas artinya. Kurang jelas bukan berarti penuh dengan kesalahan dan kekeliruan. Tetapi, memang seharusnya begitulah bahasa Tuhan yang tidak mungkin dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Ayat-ayat seperti inilah yang membutuhkan penafsiran lebih lanjut.
yang bersifat "mutasyabihat", kurang terang dan kurang jelas artinya. Kurang jelas bukan berarti penuh dengan kesalahan dan kekeliruan. Tetapi, memang seharusnya begitulah bahasa Tuhan yang tidak mungkin dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia. Ayat-ayat seperti inilah yang membutuhkan penafsiran lebih lanjut.
Sekali-kali mungkin kita harus mengevaluasi diri, seperti apakah Islam yang kita yakini dan pahami selama ini. Tidak ada salahnya mencoba menafsirkan sendiri ayat-ayat Allah. Bukankah wajar ketika meyakini sesuatu, kita terlebih dahulu meragukannya?? Yang penting adalah proses menuju ke kebenaran itu. Jangan pernah menjadi Islam tanpa tahu bagaimana Islam sesungguhnya. Hal seperti itulah yang menjadi salah satu sebab kevakuman Islam. Pikiran kita telah berjalan tidak sesuai dengan Islam. Sehingga hanya menjadi muslim sloganistis semata. Seorang dosenku pernah memberi perumpamaan perbedaan orang Islam,
khususnya di Indonesia, bila dibandingkan dengan bangsa Barat. Jika diumpamakan dengan sistem tata surya, Tuhan adalah pusatnya, planet-planet adalah masyarakat atau manusia, sedangkan orbit/lintasannya adalah jalan/batasan/aturan-aturan yang mengatur kehidupan. Umat Islam, khususnya di Indonesia, tahu bahwa Tuhan adalah pusat segalanya. Tapi, ketika mengitarinya, mereka sembarangan tidak pada lintasan yang telah ditentukan. Akibatnya, antara satu dengan yang lainnya saling tabrakan dan akhirnya hanya membawa kerusakan. Berbeda dengan bangsa Barat, mereka boleh dibilang tidak mengenal Tuhan, mereka tidak tahu bahwa ada Tuhan sebagai pusat segalanya. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka harus berjalan pada lintasan-lintasan tertentu. Dengan berjalan sesuai dengan lintasannya masing-masing, mereka tidak pernah tabrakan. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Mereka dapat terus maju, bahkan jauh meninggalkan kaum Muslim pada umumnya.
khususnya di Indonesia, bila dibandingkan dengan bangsa Barat. Jika diumpamakan dengan sistem tata surya, Tuhan adalah pusatnya, planet-planet adalah masyarakat atau manusia, sedangkan orbit/lintasannya adalah jalan/batasan/aturan-aturan yang mengatur kehidupan. Umat Islam, khususnya di Indonesia, tahu bahwa Tuhan adalah pusat segalanya. Tapi, ketika mengitarinya, mereka sembarangan tidak pada lintasan yang telah ditentukan. Akibatnya, antara satu dengan yang lainnya saling tabrakan dan akhirnya hanya membawa kerusakan. Berbeda dengan bangsa Barat, mereka boleh dibilang tidak mengenal Tuhan, mereka tidak tahu bahwa ada Tuhan sebagai pusat segalanya. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka harus berjalan pada lintasan-lintasan tertentu. Dengan berjalan sesuai dengan lintasannya masing-masing, mereka tidak pernah tabrakan. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Mereka dapat terus maju, bahkan jauh meninggalkan kaum Muslim pada umumnya.
Sebenarnya aku cukup malu untuk mengatakan ini, tapi terkadang aku berpikir bangsa Barat itu lebih Islami dibandingkan kita. Aku pernah membaca di koran, tentang kehidupan Muslim Indonesia di Australia. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa yang sedang belajar, dan ada juga yang memang sengaja datang untuk mencari penghidupan. Kebanyakan mereka adalah seorang Muslim yang taat. Ketika orang yang bekerja di sana ditanya, "Kenapa kalian memilih bekerja di Australia, tidak di Indonesia saja, apakah karena penghasilannya yang jauh lebih besar?". Mau tau jawabannya, ternyata bukan karena penghasilannya yang lebih besar. Mereka lebih merasa tenang bekerja di Australia. Di Indonesia, untuk mendapatkan sebuah tender proyek misalnya, harus keluar uang untuk ini-itu yang boleh dibilang tidak jelas untuk apa. Intinya sih cuma mau bilang, bisnis di Indonesia penuh KKN, penipuan, dsb. Jauh sekali bila dibandingkan dengan Australia yang bisnisnya dikelola secara profesional. Mereka merasa uang yang dihasilkannya di Australia jauh lebih halal daripada yang didapatkannya di Indonesia. Mungkin anda dapat menyimpulkan sendiri maksudnya. Banyak orang Islam yang tidak mengenal Islam karena memang tidak pernah mau menggunakan akalnya untuk mencari Islam. Banyak yang terlena pada kehidupan dunia, ada juga yang terlena pada kehidupan akhirat saja. Mereka seolah terbuai pada "dongeng" kejayaan Islam di masa lampau serta pada "mimpi" akan janji kemenangan di masa mendatang. Mereka lupa akan dibawa ke mana kehidupannya saat ini. Mereka hanya sibuk dengan rasa benci, permusuhan dan prasangka. Mereka hanya bisa menyalahkan orang/umat lain atas keterpurukan yang dialaminya.
Aku tidak suka dengan sikap permusuhan yang dibuat oleh sebagian Muslim terhadap umat lain. Dalam QS Ali Imran : 113 disebutkan bahwa tidak semua orang itu sama. Tidak semua umat lain itu jahat, ada juga yang baik. Begitupun dengan pengikut Islam, apakah semuanya baik? Tidak, ada juga yang jahat. Jangan sekali-kali membuat generalisasi untuk semua itu. Islam yang kuyakini dan kupahami adalah Islam yang penuh cinta dan kedamaian. Islam yang tidak mengenal sikap dusta, permusuhan dan prasangka buruk. Bahkan Nabi pun selalu
memperlakukan dengan baik semua yang memusuhinya. Ingatlah, lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuki kegelapan. Belum terlambat untuk bangkit. Mulailah dengan membentuk pemahaman dan keyakinan yang benar terhadap Islam. Jika ingin menjadi Muslim maka jadilah seorang Muslim yang "kaffah" (sempurna). Muslim yang bisa menerapkan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan. Muslim yang mampu membangun peradaban dunia tanpa melupakan Tuhannya. Muslim yang saling tolong-menolong dan menjaga hubungan baik, tidak hanya kepada Allah dan sesama manusia, tetapi
juga kepada lingkungan dan diri sendiri.
memperlakukan dengan baik semua yang memusuhinya. Ingatlah, lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuki kegelapan. Belum terlambat untuk bangkit. Mulailah dengan membentuk pemahaman dan keyakinan yang benar terhadap Islam. Jika ingin menjadi Muslim maka jadilah seorang Muslim yang "kaffah" (sempurna). Muslim yang bisa menerapkan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan. Muslim yang mampu membangun peradaban dunia tanpa melupakan Tuhannya. Muslim yang saling tolong-menolong dan menjaga hubungan baik, tidak hanya kepada Allah dan sesama manusia, tetapi
juga kepada lingkungan dan diri sendiri.
Ada sebuah nasihat dari Luqman al Hakim (semoga tidak salah), "Ambillah hikmah sekalipun itu dari anjing yang menggonggong". Aku berharap apa yang kutulis ada manfaatnya, walaupun hanya sedikit. Semuanya adalah upaya untuk lebih bersungguh-sungguh dalam memahami ayat-ayat Allah.
kita temakan pemberontakan
pada kebekuan dan kebiasaan
pada kegandaan dalam menilai
pada kebekuan dan kebiasaan
pada kegandaan dalam menilai
pada ketertutupan dalam berpendapat
pada formalisme dalam beragama
kemerdekaan adalah hakikat eksistensi manusia
pada formalisme dalam beragama
kemerdekaan adalah hakikat eksistensi manusia
1. Pergolakan Pemikiran Islam - Catatan Harian Ahmad Wahib, terbitan LP3ES tahun 1981.
2. Bacaan lain yang aku lupa baca di mana dan siapa penulisnya. Mohon maaf, tidak ada maksud untuk menjadi plagiat apalagi menghina karya intelektual anda semua. Semata-mata karena lupa.
3. Buku catatanku yang tertulis banyak hal dan banyak pendapat orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung telah menjadi guru bagiku.
2. Bacaan lain yang aku lupa baca di mana dan siapa penulisnya. Mohon maaf, tidak ada maksud untuk menjadi plagiat apalagi menghina karya intelektual anda semua. Semata-mata karena lupa.
3. Buku catatanku yang tertulis banyak hal dan banyak pendapat orang-orang yang secara langsung maupun tidak langsung telah menjadi guru bagiku.
0 komentar:
Posting Komentar